Jumat, 20 Juni 2014

Meningkatkan Kemampuan Menulis Resensi Siswa Kelas XI IPA2 SMA Negeri 1 Kedamean Tahun Pelajaran 2013/2014 Melalui Model Pembelajaran OME AKE.



ABSTRAK
Nurdiana, Siti. 2014. Meningkatkan Kemampuan Menulis Resensi Siswa Kelas XI IPA2 SMA Negeri 1 Kedamean Tahun Pelajaran 2013/2014 Melalui Model Pembelajaran OME AKE. Skripsi. Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Universitas PGRI Adi Buana Surabaya. Dosen Pembimbing: Drs. Rahayu Pujiastuti, M.Pd.

Kata Kunci: Menulis, Resensi, dan Model Pembelajaran OME AKE.
Di SMA Negeri 1 Kedamean ditemukan kesulitan belajar, terutama masalah yang berkaitan dengan kemampuan siswa menulis resensi, yaitu (1) siswa belum mampu memahami prinsip-prinsip pembuatan resensi; (2) siswa belum mampu menulis resensi berdasarkan prinsip-prinsip resensi. Oleh karena itu dicoba digunakan alternatif yaitu diselesaikan dengan menggunakan model pembelajaran OME AKE. Rumusan masalah yang dapat diajukan dalam penelitian ini adalah apakah model pembelajaran OME AKE dapat meningkatkan kemampuan menulis resensi siswa kelas XI IPA2 SMAN 1 Kedamean Gresik tahun pelajaran 2013/2014?. Sedangkan tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan menulis resensi siswa kelas XI IPA2 SMAN 1 Kedamean Gresik Tahun Pelajaran 2013/2014 melalui model pembelajaran OME AKE.
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilakukan 2 siklus. Subjek dan latar adalah siswa kelas XI IPA2 SMA Negeri 1 Kedamean yang berjumlah 31 siswa dan terdiri atas 10 siswa laki-laki dan 21 siswaperempuan. Penelitian tindakan kelas ini dilakukan secara kolaboratif dengan guru yang mengajarkan bahasa Indonesia di kelas XI IPA2 SMA Negeri 1 Kedamean dan dilakukan pada semester gasal tahun pelajaran 2013/2014. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dengan siklus. Siklus terdiri atas empat kegiatan yang mencakup (1) perencanaan; (2) pelaksanaan tindakan;                   (3) observasi; (4) refleksi. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi dan tes. Teknik analisis data menggunakan persentase.
Berdasarkan analisis data dapat disimpulkan bhwa model pembelajran OME AKE dapat meningkatkan kemampuan menulis resensi siswa kelas XI IPA2 SMA Negeri 1 Kedamean Tahun Pelajaran 2013/2014. Hal tersebut dapat dilihat pada tiga bukti yaitu (1) aktivitas guru pada siklus I 92,30%, pada siklus II meningkat 100%; (2) aktivitas siswa pada  siklus I 52,68%, pada siklus II meningkat 84,94%; (3) tes kemampuan menulis resensi pada prasiklus 67,7%, siklus I pencapaian KKM 80,64%, pada siklus II pencapaian  KKM meningkat 90,32%.  Sehingga tampak adanya suatu kenaikan yang signifikan dan observasi dinyatakan berhasil.

Chentini 3



Centhini 3
Malam Ketika Hujan
Oleh: Siti Nurdiana – 105200042
(Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia - Universitas PGRI Adi Buana Surabaya)


 centhini 3_20120504130957.jpg
Judul buku                  : Centhini 3 (Malam      Ketika Hujan)
Penulis                         : Gangsar R. Hayuaji
Editor                          : Abdul Azis Sukarno
Tata Sampul                : Gobaqsodor
Tata Isi                        : S. Lestari
Pracetak                      : Antini, Dwi, Yanto
Cetakan Pertama         :April 2011
Penerbit                      : DIVA Press (Anggota IKAPI)



Chentini 3 (Malam Ketika Hujan) diceritakan berdasarkan Serat Centhini (kitab kraton klasik) yang sebelumnya pernah tercipta novel Chentini 2 (Perjalanan Cinta) yang mengisahkan tentang pengembaraan Syekh Amongraga. Namun, pada Chentini 3 (Malam Ketika Hujan) ini mengisahkan pengembaran Cebolang anak dari Syekh Akadiat bersama keempat kawannya yang bernama Palakarti, Kartipala, Saloka, dan Nurwiti. Pengembaraan panjang Cebolang itu dalam upaya mencari pengetahuan dan makna kesejatian kehidupan.
Pengembaraan itu dimulai dari Padepokan Sokayasa, Makam Dukuh, Gunung Lawet, Pancuran Surawana, Bendungan Pancasan, Arjabinangun, Goa Limusbuntu, Goa Selapethak, Segara Anakan, Karang Bolong, Ujung Ulang Gunung Cewiring, Jumprit, Gunung Sindara, Gunung Margawati, Gunung Sumbing, Sendang Bedhaya, Mata Air Pikaton, Ambarawa, Gunung Jambu, Gunung Tidar, Candi Borobudur, Candi Mendhut, Tlatah Mataram, Desa Kepurun, Candi Prambanan, Candi Sewu, Desa Kajoran, Desa Tembayat, Masjid Lawoyan, Tepian Sungai Dengkeng, Makam Ki Buyut Banyu Biru, Sendang Banyu Biru, Makam Ki Ageng Banjarsari, Sendang Selakapa, Sendang Purusa, Sendang Tirtamaya di Desa Teleng, Desa Girimarta, Wonogiri, Pesisir Laut Selatan, Desa Karang, Ponorogo, Desa Salaung, Asrama Majenang, Gunung Wilis, Wirasaba, dan berakhir di Goa Sigala.

Penceritaan dalam novel ini menggunakan alur mundur, yaitu menceritakan ingatan Cebolang saat melakukan pengembaraan untuk menacari ilmu pengetahuan dan filsafat jawa serta makna kehidupan bersama Palakarti, Kartipala, Saloka, dan Nurwiti. Ingatan itu tiba-tiba dating dikala ia sedang melakukan semadi (berdzikir) setelah melakukan saresmi dengan istrinya yang bernama Niken Rancangkapti.
Novel yang terlahir dari Gangsar R. Hayuaji ini memapaparkan secara bebas penggambaran proses saresmi (hubungan seksual). Banyak perempuan yang melakukan adegan saresmi dengan Cebolang. Yaitu Nyi Ranada Kasepen, Nyai Padmasastra, Nyai Sriyatna, dan Seorang sinden. Yang dibuktikan pada sampul novel itu sendiri:

Daratan sudah tampak  di depan mata, Sayang. Bukakan lebar-lebar lubang bumimu! Akan aku tuang air Cupu Manik Astagina dari pusar langit. Sebagaimana hujan yang tumpah tiba-tiba di luar.” (Dikutip dari sampul Chentini 3-Malam Ketika Hujan)

Dalam novel ini tidak hanya mengungkapkan unsur seksualitas saja. Melainkan juga mengungkapkan kebudayaan Jawa kuno dengan kekayaan ilmu pengetahuan, sejarah, aspek-aspek filsafatnya. Beragam ajaran tentang beberapa kawruh Jawa dan beragam ilmu pengetahuan islam didapat Cebolang dari para Kyai dan tetua (pinisepuh) disepanjang pengembaraannya. Para Kyai itu adalah Ki Ajar Naraddhi, Ki Gupita, Kyai Lesshdaswaninda, Syekh Wakhadiat, Ki Amongtrustho, Ki Anom, Ki Bawaraga, Nyai Patmasastra, Nyai Sriyatna, Ki Harjana, Ki Amar Setama, Ki Wirengsuwigna, Kyai Sembaga, Ki Taha, Ki Cendhani Laras, Ki Ajar Kepurun, Lurah Harsana, Ki Ngabul Martaka, Panembahan Rama, Ki Wreksadikara, Ki Ngabdul Atyanta, Ki Sali, Ki Kyai Haji Nurgirindra, Brahmana Sidi, Ki Nursubdya.
Para Kyai dan tetua atau pinisepuh itu memberikan beragam ilmu tentang jawa kuno antara lain tentang Pupuh sinom dalam Serat Panji Narawangsa dan dalam Serat Sabdo Palon, tembang jaranan, lagu dolanan jawa, kisah kembang Wijayakusuma, kisah Candi Borobudur, kisah Panembahan Senopati, Seni karawitan beserta ilmu gamelan, macam-macam keris, pewayangan, ilmu membatik, ilmu tentang dukun manten (rias manten), tentang serat-serat jawa (pupuh sinom atau tembang sinom), ilmu tentang berbagai macam bentuk rumah orang jawa, kisah jaka tingkir, dan juga kisah pertemuan Nyi Roro Kidul dengan Sultan Agung.
Selain itu, kita juga dapat mengetahui kisah dibalik Cebolang yang berlatarbelakang anak Kyai dan juga dianggap sebagai lelaki perkasa, namun ia tidak lebih dari lelaki hidung belang yang mudah terpengaruh kemolekan tubuh perempuan.
Banyak pelajaran yang dapat diperoleh pembaca pada novel ini. Mulai dari pengetahuan adat jawa kuno, ajaran Agama Islam zaman dahulu, makna kesejatian dalm kehidupan dan laian-lain.

LEMBAH BUJANG



Cerpen yang berjudul “ Lembah bujang” ini karya soim anwar telah menceritakan sebuah persahabatan yang berujung kekasih.  Jarak tempat tinggal mereka sangatlah berjauhan tapi tetaplah mereka bisa bertemu. Tempat tinggal mereka juga di batasi oleh wilayah perbatasan, dan penjagaannyapun juga cukup ketat. Hal itu terjadi dikarenakan untuk menghindari adanya politis. Kutipannya : “ kami selalu bertukar kabar penjagaan di wilayah perbatasan makin ketat karena kami dianggap member dukungan politis”.
Konflik yang terjadi pada wilayah Halida terasa seperti ada hal yang berbau separatis, para penduduk yang berada di wilayah tersebut juga selalu mengalami ketegangan oleh perlakuan ketat yang di tunjukkan para tentara. Ruang dan waktu sangat terbatas. Kecurigaan para tentara kepada penduduk desa sangat berlebihan dan di rasa penuduhan tanpa bukti itulah yang terjadi.
Kutipannya : “Para penduduk di perbatasan sering dicurigai macam-macam, seperti tuduhan melindungi para separatis hingga sering terjadi penggeledahan, memasukkan barang-barang secara gelap, atau kecemasan munculnya bentrokan antar tentara penjaga perbatasan kedua Negara.”
          Ketegangan yang diperlihatkan di perbatasan kedua Negara ini tidak menyurutkan rasa persahabatan antara Halidah, Nur Fauziah dan tokoh Aku.
Bahkan di dalam cerpen ini juga mengutarakan semboyan “Perkerabatan tak boleh putus meski bumi telah dikapling atas nama Negara.”  Dua perempuan ini di ceritakan dalam cerpen berwajah cantik dan keduanya hampir mirip, yang membedakan hanya tanda yang ada pada wajah salah satunya dan sosok Aku tak mudah untuk memilih keduanya.
Kutipannya “ Dua perempuan yang masih berkerabat itu membuatku tak mudah untuk memilihnya. Wajah Halidah dan Nur Fauziah memang mirip. Yang membedakan adalah tahi lalat agak besar yang ada di pipi kanan Nur Fauziah.”
Dengan berjalannya waktu Nur Fauziah telah meninggalkan sahabtnya Halidah karena ayahnya di pindahkan ke Yala. Sosok Aku di cerita ini keliahatan sangat mensyukuri keadaan yang ada, karena dengan takdir yang memisahkan kedua perempuan itu membuatnya tak sulit untuk memilih kembali dan menjadikan Halidah kekasihnya. Kutipan “ Halidah terasa makin sempurna di mataku. Aku makin ingin sering ketemu.”
          Perasaan mencintai dan di cintai itu adalah hal yang sudah wajar karena dengan merasakan adanya cinta hidup semakin bermakna & berwarna. Kutipannya : “ Perasaan menyukai muncul padaku ketika mengaji di surau mulai dipisahkan antara lelaki & perempuan.” Selanjutnya “ Lembah bujang menjadi sangat penting karena di tempat itulah aku menyatakan rasa cinta pada Halidah. Dia pun menyambutnya. Jiwaku jadi berdenyar-denyar selalu.”
Rasa cinta yang muncul selalu dating tiba-tiba dengan didukung keindahan tempat yang dipilih selalu membawa atri dan makna yang cukup dalam.

Kamis, 19 Juni 2014

“Engkau pelacur negeriku, tempat hasrat wakil negeriku”



“Engkau pelacur negeriku, tempat hasrat wakil negeriku”
Siti Nurdiana 105200042


Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta
Pelacur-pelacur Kota Jakarta
Dari kelas tinggi dan kelas rendah
diganyang
Telah haru-biru
Mereka kecut
Keder
Terhina dan tersipu-sipu
Sesalkan mana yang mesti kau sesalkan
Tapi jangan kau lewat putus asa
Dan kau relakan dirimu dibikin korban

Wahai pelacur-pelacur kota Jakarta
Sekarang bangkitlah
Sanggul kembali rambutmu
Karena setelah menyesal
Datanglah kini giliranmu
Bukan untuk membela diri melulu
Tapi untuk lancarkan serangan
Karena
Sesalkan mana yang mesti kau sesalkan
Tapi jangan kau rela dibikin korban

Sarinah
Katakan kepada mereka
Bagaimana kau dipanggil ke kantor menteri
Bagaimana ia bicara panjang lebar kepadamu
Tentang perjuangan nusa bangsa
Dan tiba-tiba tanpa ujung pangkal
Ia sebut kau inspirasi revolusi
Sambil ia buka kutangmu

Dan kau Dasima
Kabarkan pada rakyat
Bagaimana para pemimpin revolusi
Secara bergiliran memelukmu
Bicara tentang kemakmuran rakyat dan api revolusi
Sambil celananya basah
Dan tubuhnya lemas
Terkapai disampingmu
Ototnya keburu tak berdaya


Politisi dan pegawai tinggi
Adalah caluk yang rapi

Kongres-kongres dan konferensi
Tak pernah berjalan tanpa kalian
Kalian tak pernah bisa bilang ‘tidak’
Lantaran kelaparan yang menakutkan
Kemiskinan yang mengekang
Dan telah lama sia-sia cari kerja
Ijazah sekolah tanpa guna

Para kepala jawatan
Akan membuka kesempatan
Kalau kau membuka kesempatan
Kalau kau membuka paha
Sedang diluar pemerintahan

Perusahaan-perusahaan macet
Lapangan kerja tak ada
Revolusi para pemimpin
Adalah revolusi dewa-dewa
Mereka berjuang untuk syurga
Dan tidak untuk bumi
Revolusi dewa-dewa
Tak pernah menghasilkan
Lebih banyak lapangan kerja
Bagi rakyatnya

Kalian adalah sebahagian kaum penganggur yang mereka ciptakan
Namun
Sesalkan mana yang kau kau sesalkan
Tapi  jangan kau lewat putus asa
Dan kau rela dibikin korban

Pelacur-pelacur kota Jakarta
Berhentilah tersipu-sipu
Ketika kubaca di koran
Bagaimana badut-badut mengganyang kalian
Menuduh kalian sumber bencana negara
Aku jadi murka
Kalian adalah temanku
Ini tak bisa dibiarkan
Astaga
Mulut-mulut badut
Mulut-mulut yang latah bahkan seks mereka politikkan
Saudari-saudariku
Membubarkan kalian
Tidak semudah membubarkan partai politik
Mereka harus beri kalian kerja
Mereka harus pulihkan darajat kalian
Mereka harus ikut memikul kesalahan


Saudari-saudariku. Bersatulah
Ambillah galah
Kibarkan kutang-kutangmu dihujungnya
Araklah keliling kota
Sebagai panji yang telah mereka nodai
Kinilah giliranmu menuntut
Katakanlah kepada mereka

Menganjurkan mengganyang pelacuran
Tanpa menganjurkan
Mengawini para bekas pelacur
Adalah omong kosong
Pelacur-pelacur kota Jakarta
Saudari-saudariku
Jangan melulur keder pada lelaki
Dengan mudah
Kalian bisa telanjangi kaum palsu
Naikkan tarifmu dua kali
Dan mereka akan klabakan
Mogoklah satu bulan
Dan mereka akan puyeng
Lalu mereka akan berzina
Dengan isteri saudaranya.







Realita yang tidak menyenangkan di negeri ini, tampak menginspirasi puisi yang berjudul Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta. Tema puisi ini adalah sosial politik. “Kota Jakarta” mewakili seluruh daerah di negeri ini. Hampir seluruh pelacur di negeri ini dimanfaatkan oleh para wakil rakyat. Dalam kenyataannya tak hanya pelacur yang menjadi bahan simpanan atau bahan “selewengan”, namun juga para artis cantik negeri ini juga menjadi simpanan atau bahan “selewengan”.
....
Dari kelas tinggi dan kelas rendah
diganyang
....

Ungkapan-ungkapan pada puisi ini mempunyai imaji dan makna yang menyengat. Badut-badut mengibaratkan seorang tokoh politik atau wakil rakyat di negeri ini.
....
Bagaimana badut-badut mengganyang kalian
....

Puisi ini juga termasuk puisi protes sosial. Seperti halnya cerpen karya Shoim Anwar, terutama yang terkumpul dalam kumpulan cerpen “Kutunggu di Jarwal” dengan salah satu judul cerpen “Gembrit Foury” yang menceritakan tentang kekejaman politik yang berada di luar negeri tepatnya di daerah Havana, di tempat itu mahasiswa dan warga menjadi bringas karena keadaan politik yang tidak kondusif dan pertumpahan pun terjadi dimana-mana.
Kembali pada puisi Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta yang merupakan sebuah puisi untuk mengajak pembaca terlibat dalam kepedihan sosial pelacur kemudian bagaimana pembaca dapat merubah situasi ini sesuai kemampuannya. Puisi ini besetting potret sosial perkotaan yang demikian menghujat. Dengan temo sosial politik kehidupan pelacur dibalik kekuasaan para wakil rakyat yang dapat melakukan semua hal dengan semena-mena. Dengan kata lain mau menikmati yang buruk juga, namun enggan untuk berkata ataupun berbuat baik untuk yang buruk tersebut. Kebobrokan pada dunia pemerintahan yang diwakili oleh kota Jakarta inilah yang dibingkai apik dengan pilihan kata yang khas dan juga vulgar.
.....
Sambil ia buka kutangmu
.....

.....
Sambil celananya basah
Dan tubuhnya lemas
Terkapai disampingmu
Ototnya keburu tak berdaya

.....
Menganjurkan mengganyang pelacuran
Tanpa menganjurkan
Mengawini para bekas pelacur
Adalah omong kosong

....
Dan mereka akan puyeng
Lalu mereka akan berzina
Dengan isteri saudaranya.

Demikianlah, bagaimana puisi Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta ini memiliki bahasa yang vulgar sehingga imaji pembaca tertuntun pada panorama sosial politik yang murka. Sikap penyair kepada pembaca menuntun untuk menyadarkan diri bahwa sisi buruk pelacur tidaklah pantas untuk menjadi bahan hujatan. Sedangkan sikap penyair pada persoalan yang diungkapkan adalah sosial politik yang menggelora. Perlunya pandangan lain terhadap pelacur dan pandngan lain terhadap tokoh-tokoh politik negeri ini adalah pesan yang tersirat di dalamnya.